Di tengah hiruk-pikuk ibukota, di mana waktu seolah berlomba dengan langkah para penumpang, sebuah momen terjadi di dalam salah satu gerbong Light Rail Transit (LRT) dengan tujuan Dukuh Atas. Kejadian ini menggambarkan betapa pentingnya peran petugas transportasi publik yang seringkali luput dari perhatian.
Pada
Senin pagi pukul 07.35 WIB, LRT Jakarta yang padat penumpang sedang melaju dari
stasiun Jatimulya menuju stasiun Dukuh Atas. Di antara desakan para penumpang,
masih banyak penumpang yang menanti lajunya kereta sembari bermain gawai,
membaca novel dan mendengarkan musik. Dinginnya rangkaian LRT memang lebih menusuk
kulit daripada transportasi umum lainnya, saya merasa LRT lebih dingin
dibandingkan Transjakarta, KRL bahkan MRT, namun di pagi ini saya menyadari LRT
menjadi lebih dingin dari hari-hari biasanya. Hari Senin yang ribut membuat
saya hanya bisa berdiri di dekat pintu, badan ini tidak mampu dibawa lebih
mundur atau bahkan mendapat kursi, bisa masuk ke rangkaian gerbong ini saja
sudah syukur, karena jika terlewat maka saya akan membuang waktu sekitar
sepuluh menit untuk sekadar menunggu.
Di
tengah musik yang sedang mengalun di telinga, keringat terus mengalir di
sekujur tubuh, keheranan mulai berputar di kepala karena “darimana asal si
keringat kalau LRT saja dinginnya sudah seperti ini?”. Semakin jauh kereta
ini berangkat, keringat ini juga disusul dengan hadirnya rasa pusing serta mual
yang sudah tidak beraturan. Saya sadar kaki saya sudah tidak mampu menopang
badan dan saya tidak sanggup untuk melanjutkan perjalanan, saya tidak bisa
bergegas minta pertolongan karena memang sedang ramai-ramainya. Saya hanya
berharap saya bisa bertahan hingga stasiun selanjutnya.
Rasyid
Abdilah, petugas LRT yang serentak saya lihat pada saat pemberitahuan
terbukanya pintu kereta langsung menjulurkan tangannya untuk memberi bantuan.
Ia kemudia memanggil bantuan menggunakan Handy Talkie memberi instruksi
untuk segera menyiapkan ruangan klinik kesehatan. Tidak sampai di situ
saja, para petugas juga dengan sigap memutar balik akses tangga jalan menjadi
arah turun agar saya bisa segera menuju ke ruangan kesehatan tersebut. Beberapa
petugas turut membantu saya menuruni tangga jalan dan petugas lainnya turut
sigap menyiapkan air untuk segera saya minum.
Apa
yang mereka lakukan mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, saya mengetahui
bahwa hal tersebut merupkan SOP atau Standar Operasional Prosedur dari tim
mereka, namun saya terus berdecak kagum walaupun sedang merasa kesakitan. Tim
kesehatan juga langsung tiba sesaat saya berada di klinik tersebut, ini sangat
sigap dan profesional. Saya diperiksa dan tidak lupa juga diberikan obat untuk
langsung saya konsumsi. Petugas LRT juga silih berganti memberikan semangat dan
memastikan ke arah mana stasiun tujuan saya setelah ini.
Saya
hanya seorang penumpang biasa, mungkin sama seperti Anda. Namun, saya merasa
beruntung bisa menyaksikan langsung dedikasi para petugas LRT ini. Mereka
mengingatkan kita bahwa di balik setiap kenyamanan yang kita nikmati, selalu
ada kerja keras dan dedikasi yang patut dihargai. Kejadian ini membuat saya
sadar betapa pentingnya peran petugas transportasi publik dalam memastikan
keselamatan dan kenyamanan penumpang. Saya berharap semakin banyak petugas
transportasi yang mendapatkan pelatihan untuk menghadapi situasi darurat
seperti ini. Dengan demikian, keselamatan dan kenyamanan penumpang akan semakin
terjamin. Rasyid dan para petugas lainnya, dengan kesigapannya, telah
menunjukkan bahwa di balik seragam petugas LRT, ada manusia yang siap membantu
dengan sepenuh hati.

Post a Comment