Di antara



            Beberapa waktu lalu aku baru menyadari sisi ketidakadilan menjadi anak tengah. Berada di antara sang kakak dan adik membuat aku menjadi pipih karena seperti tertekan dari sisi atas dan bawah, “Nasib yang sial, aku tak minta untuk dilahirkan” ucapku ketika mulai merasakan sisi lain menjadi anak tengah.

            Aku merasa terjebak di antara ekspektasi yang tinggi terhadap kakak dan keringanan tanggung jawab yang diberikan kepada adik. Kakak seperti sudah bebas dalam menentukan ke mana kakinya akan melangkah, namun aku masih terikat dengan pertanyaan Masih bisa kau haha-hihi di tengah pusara?.” Aku masih memikirkan pijakan kaki yang paling baik untuk aku serta untuk adikku, karena jika pijakanku salah mungkin akan merambat ke mana-mana lalu akan babak belur dicerca.

            Andaikata tubuhku terjatuh sakit, hanya ada serentetan pertanyaan kenapa dan mengapa aku bisa sakit, rasanya seperti aku harus menggonggong merintih meminta pertolongan terlebih dahulu kalau aku ingin segera diobati. Hal itu berbanding terbalik ketika adik sedang sakit, tanpa sepatah kata pun ayah langsung mengurusinya dengan sangat baik, tak lupa dengan berbagai macam makanan lezat nan sehat yang langsung dihidangkan agar adik menjadi lebih sehat.

            Mungkin rangkaian alinea di atas menunjukan bahwa aku terlalu sentimental atau iri hati saja, awalnya aku juga merasa seperti itu kok! tapi semakin aku tumbuh malah semakin banyak juga hal yang seharusnya menjadi bahagia tetapi dirampas di rumah. Namun hal ini tak melulu datang, perasaan sentimental seperti ini hanya mengganggu di saat-saat tertentu saja. Semakin tumbuh juga aku semakin mengerti mungkin kakak juga mempunyai perasaan-perasaan sentimental seperti ini dengan kedua adiknya.

            Menjadi anak tengah juga membuat aku menyadari bahwa posisi sebagai anak tengah memberiku kesempatan untuk melihat kedua sisi cerita. Aku bisa belajar dari kesalahan kakakku dan menghindari mengulanginya, dan aku juga bisa menjadi panutan bagi adikku. Aku menjadi penghubung yang kuat antara kakak dan adik, seseorang yang bisa mereka percayai dan andalkan. Di antara kakak, aku dan adik pasti mempunyai corak cerita yang berbeda-beda, yang terkadang ringan namun bisa tiba-tiba menjadi berat, aku hanya berharap akan selalu ada bara api yang tersisa untuk menghangatkan kita.

Post a Comment

Previous Post Next Post