![]() |
(Menulis Catatan Harian, Sumber Gambar: Freepik)
Mahasiswa sering kali dianggap sebagai sekelompok orang yang berenergi tinggi, penuh semangat, dan memiliki masa depan cerah. Namun, di balik gambaran tersebut, banyak mahasiswa yang menghadapi tantangan besar terkait kesehatan mental.
Banyak mahasiswa juga bekerja paruh waktu untuk memenuhi
kebutuhan hidup atau membantu keluarga. Tekanan-tekanan tersebut dapat menyebabkan
berbagai masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan bahkan burnout.
Gejala-gejala umum meliputi perasaan putus asa, kesulitan tidur, penurunan
minat pada aktivitas yang biasa dinikmati, serta gangguan konsentrasi. Dalam
konteks ini, penting untuk menemukan metode yang efektif untuk mengelola
kesehatan mental. Salah satu metode yang semakin populer adalah journaling.
Melalui kegiatan menulis secara rutin, mahasiswa dapat menemukan cara untuk
meredakan stres dan memahami diri mereka dengan lebih baik.
Kesulitan Mengekspresikan
Emosi
Mahasiswa
sering kali merasa kesulitan untuk mengekspresikan emosi mereka secara verbal.
Terkadang, tekanan dari lingkungan akademis dan sosial membuat mereka merasa
tertekan dan cemas, namun mereka tidak selalu memiliki sarana yang tepat untuk
mencurahkan perasaan tersebut. Journaling atau catatan harian memberikan
sebuah tempat yang aman dan bebas dari penilaian, di mana mahasiswa dapat
menuliskan segala perasaan dan pikiran mereka tanpa rasa takut dihakimi. Melalui
kegiatan mencatat perasaan dari pengalaman sehari-hari, mahasiswa memiliki
kesempatan untuk lebih memahami dan mengelola emosi mereka dengan cara yang
lebih terstruktur. Proses ini memungkinkan mereka untuk merenungkan
kejadian-kejadian yang terjadi dalam kehidupan mereka, mengidentifikasi
sumber-sumber stres atau kecemasan, dan memahami bagaimana reaksi emosional
mereka terhadap berbagai situasi
Menurut
Dr. James Pennebaker, seorang psikolog dan ahli terkemuka di bidang Expressive
Writing, journaling dapat menurunkan tingkat depresi dan anxiety,
serta meningkatkan kualitas hubungan sosial manusia. Seorang psikoterapis dan
ahli di bidang journaling, Maud Purcell, juga mengatakan bahwa kegiatan menulis
catatan harian dapat melibatkan penerapan dari kedua belah otak kita sekaligus.
Saat melakukan journaling, otak kiri kita yang cenderung rasional dan
alaitis akan sibuk berpikir. Di waktu yang sama, otak kanan kita yang cenderung
kreatif, sensitif, dan intuitif, juga akan tetap aktif 'bermain' dan
'berkelana'. Hal ini dapat membantu menghilangkan hambatan mental pada diri
kita. Selain itu, hal ini juga memungkinkan kita menggunakan lebih banyak
kekuatan otak untuk lebih memahami diri kita sendiri dan
dunia sekitar kita.
Langkah Proaktif dalam
Mengelola Stres
Menulis
catatan harian juga berfungsi sebagai alat yang efektif untuk melacak pola-pola
emosional dan kejadian-kejadian yang memicu stres. Dengan melihat kembali
catatan mereka, mahasiswa dapat menemukan pola atau situasi yang secara konsisten
menimbulkan stres atau kecemasan. Misalnya, mereka mungkin menyadari bahwa
tenggat waktu tugas akademis selalu memicu tingkat stres yang tinggi, atau
interaksi sosial tertentu membuat mereka merasa cemas.
Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang
pemicu-pemicu ini, mahasiswa dapat mengambil langkah-langkah proaktif untuk
menghindari atau mengelola situasi tersebut dengan lebih baik. Mereka mungkin
mengembangkan strategi untuk hal apa saja yang harus dilakukan dengan lebih
efektif, seperti manajemen waktu yang lebih baik, cara relaksasi, atau mencari
dukungan dari teman atau konselor. Pada akhirnya, menulis jurnal bukan hanya
membantu mereka mengatasi tekanan saat ini, tetapi juga membekali mereka dengan
keterampilan penting untuk mengelola emosi dan stres di masa depan.

Post a Comment