Antara Doa, Sejarah, dan Ribuan Makam

 

Gereja Sion berdiri anggun di tengah hiruk-pikuk kota Jakarta, bagaikan saksi bisu yang memendam ribuan kisah sejak masa lampau. Dulu, sebelum menjadi rumah ibadah, tanah yang kini menjadi fondasinya adalah tempat peristirahatan terakhir.

Dari Gereja Sion hingga Museum Fatahillah, kawasan ini adalah pemakaman bagi ribuan jiwa yang kebanyakan gugur karena penyakit. Makam-makam yang dahulu teratur kini hanya menyisakan kenangan, dengan 2.831 kuburan yang pernah terdata. Namun, di halaman Gereja Sion, masih berdiri kokoh 11 makam para pejabat, seolah waktu tak mampu meruntuhkan warisan mereka.

Gereja ini pertama kali dibangun pada tahun 1695, dan sejak saat itu hingga kini, banyak hal di dalamnya tetap utuh. Tiada renovasi besar yang mengubah bangunannya, bahkan bangku-bangku kayu yang berada di dalamnya masih asli. Setiap sudut kayu memancarkan pesona usang yang memeluk sejarah. Angka-angka tertulis di beberapa bagian bangunan, menjadi bukti bahwa kayu-kayu itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Pondasi gereja pun unik, tidak seperti bangunan modern yang menggunakan beton, Sion dibangun dengan kayu dolken sebagai penyangga utama.

Sejarah mencatat dua peristiwa besar yang hampir menghapus Gereja Sion dari ingatan. Pertama, letusan dahsyat Gunung Krakatau yang mengguncang Nusantara, dan kedua, kerusuhan tahun 1998 ketika amukan massa hampir membakar gereja ini. Jendela kaca di sisi-sisi gereja masih asli, kecuali yang berada di dekat pintu masuk. Kaca itu telah diganti setelah pecah oleh lemparan batu saat kerusuhan terjadi, seolah menandai luka yang tak bisa terlupakan.

Di depan gereja, 11 makam masih terjaga. Seorang jemaat bernama Hardi Kusumo, menceritakan kisah mereka. Makam pertama milik seorang donatur gereja, seorang India Katolik yang selalu memberikan dukungan bagi orang-orang miskin. Makam kedua adalah seorang gubernur jenderal yang sederhana, yang memutuskan untuk dimakamkan di antara rakyatnya. Ada pula seorang ahli bedah asal Prancis, serta seorang kapten kapal yang dulu mengungkap korupsi dalam timbangan perdagangan. Semua mereka adalah figur yang mungkin tak diingat oleh banyak orang, namun namanya terus terpatri di tanah ini.

Di belakang gereja, berdiri sebuah lonceng besar yang selama berabad-abad menjadi pengingat bagi umat untuk beribadah. “Siapa pun kamu, setinggi apa pun jabatanmu, jangan sombong. Tetap tundukkan kepala dan berdoa,” ujar Hardi Kusumo  dengan nada tenang. Lonceng itu berbicara dalam keheningan, mengingatkan bahwa hidup ini adalah perjalanan yang fana.

Tak hanya itu, di balik lantai-lantai gereja yang terbuat dari batu berukuran 40x40 cm dan berat 20 kg, terkubur kisah tragis dari 2.381 jiwa yang dimakamkan dari area Gereja Sion hingga ke Stasiun Jakarta Kota, dekat Museum Fatahillah. Gereja Sion bukan hanya bangunan fisik, melainkan sebuah monumen yang menyimpan memori ribuan orang, baik yang dimakamkan maupun yang masih berdiri di hadapannya.

Post a Comment

Previous Post Next Post